Manusia Utuh. Bukan Wonder Woman

Hai,.. Apa kabar?

kali ini aku mau berbagi tentang bagaimana rapuhnya perasaan setiap orang.

apakah kalian sering mendengarkan kata atau kalimat berikut ini?

“anak hebat tidak boleh menangis”

Dua kalimat di atas memang menjadi semboyan yang paling kokoh dan susah untuk ditepis oleh setiap orang. Ya memang itu tidak bisa dibantah karena terkadang itu bisa dibenarkan. Tetapi pernahkah sejenak kita merenungkan atau membaca kembali makna yang tersirat di kalimat itu? ada banyak makna yang terselip di sana. Yapss,. kalian juga pasti sudah memahami bahkan bosan mungkin untuk mendengarkan hal itu. Tetapi sebagai Manusia tentu semua punya banyak kekurangan. Sangat wajar jika kita menangis, bersedih, emosi, cemburu, marah, tertawa dan dengan ekspresi lainnya. Karena memang kita adalah Manusia yang diciptakan dengan Perasaan. Manusia tercipta bukan hanya diberikan akal/logika dan pemikiran tapi juga perasaan.

Aku kesal mendengarkan kata-kata “BAPER”. Kalau kita marah, sedih karena sesuatu hal yang memang benar adanya menyakiti hati karena ulah teman atau siapapun itu, dan sialnya mereka dengan gampang mengeluarkan kata.. “Cieee Baper bangat sih, jangan baperan dong dan sejenisnya” rasanya ingin ku jadikan sambel gado-gado itu orang. pertanyaannya apakah dia sadar kalau sudah menyakiti atau melukai orng lain? lalu dengan gampang mengucapkan kata baper?? atau baperan?? heiiiii, semenjak ada kata-kata Baper orang jadi takut untuk ber-ekspresi dan selalu memendem apa yang dia rasakan agar terlihat cool. Padahal tanpa dia sadari itu sangat melukai hati nya yang sangat terluka itu.

Aku, kamu, kita adalah Manusia biasa yag merasakan banyak hal. Kita bukan Wonder Woman yang bisa segalanya. Sebagai manusia biasa, tidak masalah jika kamu marah,emosi dan lain sebagainya. Memendam semua apa yang kamu rasakan sama saja menjatuhkan diri sendiri ke dalam lobang perapian yang menyala-nyala. Jika kamu harus menangis maka menangislah. Tidak apa-apa. Jika kamu merasa kamu susah untuk bercerita atau bahkan orang yang kamu percayapun seolah berpaling meninggalkan mu maka menangislah.

Pulihkan diri mu sendiri. Sesak dan rasa sakit yang kamu rasakan hanya bisa disembuhkan oleh diri sendiri. Keluarkan semua apa yang sedang kalian rasakan. Jika kamu malu dengan keadaan mu karena perasaan yang kamu alami, maka kamar dan seluruh perlengkapan yang ada di dalam menjadi saksi bisu apa yang kamu alami dan kamu lakukan. Menerima sesuatu hal terhadap apa yang kita alami dalam hidup memang sangat susah bahkan tidak sanggup untuk meng-iyakan segala yang terjadi. Itu sangat sakit dan sulit. Ketika kita sudah mulai menerima dengan lapang dada semua nya bisa tiba-tiba menjadi penyesalan yang sangat amat dalam.

Ya brarti itu sama artinya dengan tidak menerima dong?

Bukan.

Itu karena perasaan kita yang sudah sungguh sangat rapuh. (Akh ngak tau lagi mengungkapkan denga kata-kata). Bukan karna kita menolak setiap apa yang sudah terjadi. ingat kita manusia biasa, bukan manusia yang memiliki kekuatan dan 100 nyawa. Aku sungguh sangat memahami setiap gejolak perasaan yang kita hadapi masing-masing. Untuk itu menangislah,.. tidak ada satu orangpun di muka bumi ini yang dapat menolongmu, siapapun itu. yang bisa menolong mu hanya diri mu sendiri dan di tonton saksi bisu kamar mu. Cintailah diri mu karna harus kuat untuk menghadapi semua gejolak perasaan yang kamu alami.

Me

Haiii, Gw Kristin, itu nama singkatnya. Gw lahir di Sumatera Utara, tepatnya di sebuah desa yang sejuk yaitu Narumonda. Dari foto imut gw (atas) bisa ngak tebak gw anak tahun berapa? Yupzz gw anak 97. Sekarang gw tinggal di Jakarta dan bisa jadi udah warga sini (walau KTP gw belom jadi diurus). Gw kuliah di salah satu kampus swasta di Jakarta. Sekarang udah kerja dan tinggal …. (bisa panjangin sendiri yakk).

Akhirnyaa, gw ada waktu buat kembali menilik wordpress yang sudah sejak lama ada ini tapi dia selalu dianggurkan karena gw yang sok sibuk.

Semoga kita bisa berteman dan saling berbagiiii.

itu aja kali yaa,

btw foto (atas) itu wajah saat gw semester 2 .

see youu

salam,

Kristin